Minggu, 10 Juli 2011

Kegalauan yang Terjawab (Cerpen)


Islamedia - Sepekan sudah, hati ini terus berdegub tak beraturan.  Semenjak teman SMA-ku, Evi, menyampaikan permintaan anehnya, membuat perasaan ini selalu tidak menentu.  Dan uniknya juga, sepertinya mulut ini terkunci rapat, gagu, tidak sampai hati seandainya istri saya harus tahu persoalan yang ada di kepalaku ini.  Sehingga itu pula, belum ada keberanian untuk mengungkap kepada kekasih yang telah memberiku 4 orang anak itu.  Antara bimbang, galau, ragu, atau apalah namanya yang jelas… cemen, kata anak-anak sekarang.

Biasanya…, istri adalah orang pertama yang aku ‘curhati’ ketika banyak sekali masalah yang menggelayuti pikiranku.  Tetapi tidak dengan kali ini, sepertinya aku seorang pecundang yang telah kalah sebelum berperang.  Atau karena ini menyangkut perasaan wanita,  sehingga aku juga tidak tega melukai perasaan wanita.  Apalagi wanita yang spesial dihatiku.  Ahh… wanita…wanita, ternyata banyak sekali yang aku tidak tahu tentangnya,  walau telah 10 tahun  lebih aku dekat dengan seorang wanita sekalipun.

Dalam sepekan ini pula, di setiap qiyamul lail-ku selalu bermunajat kepada Allah, berharap semoga diberikan jalan yang terbaik.   Tetapi justru sebaliknya, hatiku makin gelisah setiap kali melihat disampingku, wajah kekasihku, yang setiap itu pula masih terlelap dengan mimpi indahnya.  Hmm.. pulas sekali tidurnya.  Sepertinya terlalu lelah…, setiap hari harus mengurus dan berjibaku dengan tingkah polah 4 anak-anakku.  Bagaimana pula nanti seandainya harus ada ‘wanita lain’ dihati suaminya?.  Waduh… makin galau hati ini.
----------------

Di pagi subuh yang dingin, serasa udara hari ini lebih dingin dari biasanya, sepulang dari masjid, diatas sajadah lusuh aku melafadzkan dzikir Al-Ma’tsurat yang disusun oleh Imam Hasan Al-Bana. 

Ketika mulutku bergumam pada bacaan do’a Rabithah, tiba-tiba berkelebat cepat melintas di kepalaku,  teringat siroh Rasulullah Muhammad SAW saat menerima wahyu yang pertama.  Dengan kondisi badan yang menggigil, gemetar, ketakutan yang amat sangat.  Rasulullah SAW cepat-cepat mencari sosok istri yang wafa’ (setia), Khadijah,  untuk menumpahkan semua perasaannya. 

Lintasan tentang kisah Rasulullah itu seolah-olah memberi aku kekuatan, secercah dorongan, untuk segera menumpahkan juga semua kegalauan hati pada kekasihku.

Ku tengok sajadah disampingku, tampak istri masih khusu’ dengan do’anya.  Beberapa saat kutunggu menyelesaikan do’anya. 

Dengan mengatur nafas, aku mencoba membuka pembicaraan.

“Luv…ada yang ingin Abi sampaikan…”

Aku biasa memanggil kekasihku dengan sebutan Luv…, kependekan dari Lovely.  Begitu juga aku, sukanya dipanggil Beib… atau kadang-kadang Say.  Biar masih kayak orang pacaran, katanya.  Wuih…senengnya kalau dah dipanggil Say.  Mau minta jalan kemana juga dianterin…he…he…

“Ya, Beib…, ada yang serius nih…?”
“Abi mau tahu pendapat Luv…  ”
“Apa sih…, kok baunya lain gitu… pendapat apa…?”

Kata istri saya…, kalau sedang ada ‘sesuatu yang lain’ pada diriku, atau ada yang aneh pada tingkahku, dia selalu bilang gitu…, baunya lain.  Mungkin karena… sudah 10 tahun lebih mendampingiku, rupanya sudah terbaca juga kebiasaanku.  Atau memang bau keringatnya yang lain… Wah nggak tahulah. Tapi  kata orang-orang itulah chemistry-nya pasangan suami istri.

“Mmm… Luv ingatkan sama Evi… temen Abi yang ketemu di acara milad PKS…”
“Ya, kenapa… Beib?”
“Nah, dia kan… single parent
“Terus… “
“Dia itu kan… ada keinginan nikah lagi…”
“Bagus dong… “

Sengaja aku mencoba obrolan pagi itu dengan suasana sejuk, sesejuk udara pagi hari, tidak langsung mengarah pada sasaran.  Mengajak istri untuk berwacana dulu… tentang poligamimisalnya.  Sebab kata sebagian ummahat, satu kata ini yang paling tidak disukai.  Hmmm…apa istriku termasuk yang nggak suka kata ini ya…?

“Tapi… maunya nikah dengan ikhwan yang sudah beristri… “
“Maksudnya… mau dipoligami gitu…”
“Iya dong Luv… emang ada nama lain ya…”
“Tapi bukan sama Abi kan… ?”

Degg…wah istriku cepat-cepat membuat statemen seperti itu.  Menurut tafsiran aku, seolah-olah istriku berkata begini : boleh poligami, asal jangan sama suamiku.

“Ehh…ee… eee…”

Lidah ini kelu rasanya untuk berkata-kata, sehingga tidak sampai juga kata itu keluar dari mulutku. 

Belum juga aku sampaikan maksudku, eh… obrolan kami terhenti.  Tiba-tiba… istriku berubah rona mukanya, wajahnya terlihat datar.  Tidak menampakkan ekspresi wajah yang gembira, bahkan cenderung muram, seperti mendung yang segera akan menitikkan air hujannya.  Ekspresiwajah yang bertolak belakang ketika aku mengajak istri untuk makan malam diluar.  Ohh… kenapa ini?

Cepat sekali ia menduga-duga isi kepalaku, sepertinya sudah tahu arah pembicaraannya.  Walaupun aku belum menyampaikan sepatahpun tentang permintaan Evi.  Sehingga secepat itu pula istriku merubah rona mukanya, menunjukkan ketidaksukaannya.

Aku yang memulai pembicaraan tadi, jadi nggak enak hati, kikuk…
Waduh jadi stag lagi nih… pikirku, segera aku alihkan obrolan yang lain saja.

“Ee…. olah raga yuk….”
“Badminton kek, atau… naik sepeda”
“Hari Sabtu kan… family time….”

Aku mencoba memecah suasana stag ini, mengajak istri untuk tarbiyah jasadiyah, olah raga.  Tetapi orang yang diajak masih diam, tidak bergeming.  Memilih menikmati kesenduannya.

Abi sendiri aja deh… olah raganya”
“Aku mau bikin kue, buat anak-anak…”

Akhirnya aku tinggalkan istriku sendirian.  Aku menuju ke kamar anak-anak.  Kubangunkan anakku ‘Afaf dan Difa untuk sholat subuh.  Dan segera aku pakai sepatu olah ragaku,…. jogging.
---------------

Sepulang dari jogging, aku langsung disambut oleh kekasihku.  Wah sudah sembuh nih…, wajahnya nggak sendu lagi, ada apa lagi ya…? Kok secepat itu…
Belum juga buka sepatu, segelas teh hangat disodorkan ke aku.  Segera aku menyeruputnya…

Alhamdulillah…. segarnya teh ini…”
“Semoga yang membuatnya, mendapat kebaikan dari Allah SWT….”
Amiin….” Kata istriku

Dengan masih senyam-senyum, aku dibuatnya terbingung-bingung oleh istriku.  Tiba-tiba dia melanjutkan pembicaraan yang tadi sempat terhenti.

Abi… aku sudah tahu…”
“Evi… temen SMA Abi itu… minta dinikahi sama Abi kan…?”
“Ee…ee... iya…”

Aku jadi terbata-bata.  Kok… aku jadi seperti orang yang kalah perang gini.  Dan sebaliknya, sepertinya senyum istriku adalah senyum kemenangan.  Senyum penuh arti.   Wajahnya juga berseri-seri, gembira sekali.

“Tapi itu nggak akan mungkin terjadi …”
Abi kan…. PNS”

Glegg… walah… aku seperti tertohok dengan kata terakhir istriku.  PNS…
Memang sebelumnya aku pernah sampaikan ke istriku, bahwa seorang PNS yang akan menikah lagi itu banyak sekali persyaratannya.  Misalnya istrinya nggak bisa melahirkan, atau karena sakit yang amat parah sehingga tidak memfungsikan sebagai istri, belum lagi harus ada ijin dari atasan.

Masih bersambung…. :)

Jakarta, 7 Juli 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar